Laporan
hasil obsevasi tentang konsep dasar matematika di Sekokah Dasar

Disusun
oleh
Ely
permono 292014082
PENDIDIKAN
GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
KRISTEN SATYA WACANA
SALATIGA
2015
Daftar
isi

Bab 1
Latar belakang
Materi pelajaran matematika mulai diberikan di
sekolah dasar merupakan hal yang sangat tepat, mengingat matematika telah
terbukti sangat bermanfaat bagi peserta didik baik dalam mempelajari pelajaran
lain maupun dalam kehidupan sehari-hari. Namun perlu disadari bahwa matematika
bagi sebagian besar peserta didik merupakan pelajaran yang sangat sulit
sehingga seringkali kita temui peserta didik yang tidak menyenangi pelajaran
matematika. Sebagai guru tentunya bertugas untuk mengantisipasi agar keadaan
seperti itu tidak terjadi. Jika keadaan seperti itu telah terjadi, maka guru
bertugas untuk segera mengatasinya. Jika peserta didik tidak menyenangi
matematika, mungkin salah satu penyebabnya adalah guru membelajarkan peserta
didik hanya dengan menggunakan satu cara yang kebetulan cara itu tidak cocok
untuk peserta didik tersebut
.
Dalam kegiatan observasi ini saya mengamati proses pembelajaran matematika
untuk kelas 4 sekolah dasar. Disekolah yang saya lakukan observasi yaitu SD N 1
WONODOYO saya menemukan beberapa kesulitan masalah yang dialami oleh siswa
dalam pelajaran matematika khususnya pada kompetensi dasar bangun datar.
Masalah yang sering dialami oleh siswa seperti, siswa masih bingung dalam
membedakan antara bangun yang hampir mirip bentuknya antara lain persegi, persegi
panjang dan jajar genjang, siswa juga masih ada yang bingung dalam membedakan
antara luas dan keliling, juga siswa belum bisa untuk mengahafalkan rumus –
rumus secara luar kepala dan juga yang paling dominan adalah siswa bingung
menghitung luas dan keliling bangun campuran. Disini guru cenderung menjelaskan
materi dengan metode yang sederhana tanpa menggunakan metode yang lain dan
lebih menyenangkan bagi peserta didik supaya pelajaran yang diberikan bisa
lebih bisa dimengerti oleh peserta didik.
Bab 2
PEMECAHAN MASALAH
Dalam proses belajar mengajar tingkat sekolah
dasar disini guru hanya mengajarkan matematika Cuma sebatas pengetian materi
sebagai awalan juga Cuma sebatas mengerti intinya. Dalam arti inti hanyalah
bentuk bangun, rumus, dan konsep sederhana mengenai bangun tersebut tanpa
diajari ciri – ciri, sifat – sifat, dan cara menemukan rumus tersebut.
Selain itu juga
guru dalam proses pembelajaran hanya menggunakan metode ceramah saja. Pemebelajaran
matematika harusnya tidak menggunkan metode ceramah, karena matematika ilmu
pasti yang tidak bisa dijelaskan secara singkat, harus menggunakan metode
pembelajaran yang lebih mengasikan bagi peserta didik sehingga peserta didik
bisa semangat mengikuti pelajaran matematika yang selama ini dianggap pelajaran
yang sulit dan memusingkan bagi sebagian
siswa di sekolah dasar.
Untuk meningkatkan pengetahuan siswa mengenai pelajaran
matematika ini harusnya guru mengajarkan kepada siswa mulai dari yang paling
mendasar sampai siswa itu mengerti betul, guru juga bisa mengajarkan sambil
membawa contoh benda kongkrit supaya siswa bisa mengerti dan bisa membedakan
bentuk bangun datar tersebut, hal ini juga akan lebih membuat niat belajar belajar siswa jadi lebih giat, karena
dengan cara seperti ini siswa bisa menagamati secara langsung apa yang
diajarkan oleh guru dikelas. Selain mengamati langsung juga guru harus
menjelaskan itu akan lebih efektif untuk memperdalam pengetahuan siswa, karena
karakteristik siswa dalam belajar itu berbeda, ada yang langsung mengerti saat
dijelaskan ada juga yang harus menggunakan contoh nyata dari pelajaran
tersebut.
Selain metode dengan benda kongkrit tadi, guru juga bisa
menggunakan metode jingsaw. Metode
jigsaw adalah suatu teknik pembelajaran model kooperatif yang memiliki kesamaan
dengan “pertukaran antar kelompok” tetapi menuntut tanggung jawab besar dari
siswa dalam pembelajaran.metode ini lebih akan mengasah kemampuan berfikir
siswa secara menyeluruh. Juga metode ini akan mengajarkan siswa untuk melatih
keberanian untuk ngomong didepan teman sekelasnya. Metode jingsaw juga akan
melatih kekompakan siswa dalam kelompok tersebut juga akan mempererat
kekompakan dan rasa pershabatan dalam kelas, juga untuk melihat sejauh mana
kompetensi yang dimiliki oleh siswa dalam suatu pelajaran matematika dan juga
sebagai alat guru untuk melakukan evaluasi terhadap mata pelajaran juga sebagai
alat ukur untuk melihat tingkat kecerdasan siswa.
Kelebihan
metode jigsaw
Ibrahim dkk (2000) mengemukakan kelebihan dari metode jigsaw sebagai berikut.
·
Dapat mengembangkan tingkah laku kooperatif
·
Menjalin/mempererat hubungan yang lebih baik antar siswa
·
Dapat mengembangkan kemampuan akademis siswa
·
Siswa lebih banyak belajar dari teman mereka dalam belajar
kooperatif dari pada guru
Selain metode jigsaw ini guru juga menggunkan
puzzle dalam pelajaran ini.Menggunakan puzzle ini menuntut siswa yang aktif
dalam memasangkan atau menjodohkan gambar yang tepat. Disini selain melatih
psikomotorik siswa juga akan memberi manfaat lain seperti, murid jadi akan
lebih gampang mengerti dari apa yang dilakukan. Juga akan melatih siswa akan
berfikir lebih kritis.
Metode ini akan lebih membuat siswa aktif dan
bersemangat dalam mengikuti pelajaran matematika ini. Karena matode ini
mengasikan bagi siswa,bila dilihat dari karakter anak sd itu masih bermain,
maka tidak ada salahnya para guru menggunkan metode ini. Bermain sambil belajar
akan membuat pengetahuan siswa itu bertambah dengan lebih cepat divandingkan
dengan cara belajar Cuma dijelaskan oleh guru yang akan membuat siswa akan
gampang bosen dan pelajaran yang diberikan tidak akan masuk dan diserap secara
keseluruhan oleh siswa.
Metode pembelajaran dengan tehnik jigsaw atau
pun pictuce and picture ( puzzle) adalah jalan keluar untuk mengajarkan
pelajaran matematika yang selama ini dianggap sulit dan membosankan bagi anak –
anak. Selain itu kita sebagai calon guru harus menemukan atau menggunakan
metode yang relative baru dan belum pernah digunakan oleh para guru sebelumnya.
Kita harus menghapuskan pemahaman tentang
belajar matematika yang dianggap sulit dan menjadi momok oleh para siswa.
Merubah pandangan tersebut dengan metode mengajar yang lebih baru dan
mengasikan bagi peserta didk sehingga minat dan niat siswa untuk belajar
matematika itu berkembang dan muncul sehingga apa yang sudah kita ajarkan bisa
diserap secara keseluruhan atau diserap secara maksimal oleh peserta didik.
Ibrahim dkk (2000) mengemukakan kelebihan dari metode jigsaw sebagai berikut.
Bab 3
Kesimpulan
Pelajaran
matematika yang selama ini menjadi momok bagi setiap peserta didik khususnya
anak sd. Contohnya pada pembelajaran bangun ruang yang diajarkan oleh guru,
disini cenderung guru hanya menjelaskan materi ini secara singkat tanpa
bertanya kepda siswa bagian mana yang sulit dipahami, guru disini juga hanya
menggunakan metode ceramah atau teacher centered . guru hanya
berpusat pada menjelaskan materi bukan menanamkan konsep tentang bangun ruang
secara mendasar. Dari cara guru menjelaskan tersebut siswa masih belum bisa
memahami pelajaran yang diberikan oleh guru, belum bisa menghafal rumus – rumus
yang rumit, dan siswa belum mampu menghitung bangun campuran.
Untuk mengatasi masalah – masalah
tadi, kita sebagai calon guru harus merubah paham tentang pelaran matematika
itu sulit, dan kita harus merubah metode pembelajaran yang selama ini
digunakan oleh para guru yang dianggap
membosankan dan membuat para siswa menjadi malas untuk belajar matematika.
Untuk mengatasi rasa bosan dan mlas yang dialami oleh para siswa kita bisa
menggunakan metode pendidikan yang relative baru dan menyenangkan bagi siswa.
Selain pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa kita kita juga harus mengajak
sisa untuk lebih aktif dalam mengikuti pelajaran dikelas supaya tujuan
pembelajaran bisa dicapai.
Metode yang lebih menyenangkan kita
bisa menggunakan metode seperti, jigsaw, cooperative learning, picture and
picture, puzzle. Pembelajaran bukan hanya di lakuakan didalam kelas tetapi kita
juga mengajak siswa belajar keluar kelas dan kita ajak siswa untuk langsung
mengamati langsung seakalian kita tunjukan contoh kongkrit yang ada disekitar
lingkungan sekolah.
Daftar pustaka
(SOENARJO, 2007)
http://www.gurukelas.com/2012/09/cooperative-learning-dengan-teknik-jigsaw-metode-jigsaw.html, (Disarikan dari berbagai sumber: http://www.majalahpendidikan.com, http://www.akhmadsudrajat.wordpress.com,
LAMPIRAN


Tidak ada komentar :
Posting Komentar